TERJEBAK ANTARA PERUT DAN HUKUM: KAMI HANYA MENCARI NAFKAH, BUKAN PENJAHAT!
Metronusantaranews.com - WAY KANAN – Di tengah gemuruh mesin dan harapan akan sesuap nasi, ribuan warga di wilayah Kecamatan Blambangan Umpu, Kecamatan Umpu Semeguk, dan Kecamatan Baradatu kini hidup dalam ketakutan. Mereka terjebak dalam situasi paling sulit: di satu sisi harus berjuang menyambung nyawa keluarga, namun di sisi lain terancam jeruji besi karena bekerja di lokasi Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI).

Melihat penderitaan yang semakin berat ini, para Tokoh Masyarakat, Kepala Kampung, dan perwakilan warga secara bersama-sama menyampaikan suara hati mereka kepada pihak berwenang.
Permohonan ini ditujukan kepada Bupati Way Kanan, seluruh jajaran Pemerintah Daerah Kabupaten Way Kanan, DPRD Kabupaten Way Kanan, Dinas Pertambangan dan Energi, Dinas Lingkungan Hidup, Kepolisian Resor Way Kanan, Kejaksaan Negeri Way Kanan, Kodim 0427/Way Kanan, serta seluruh instansi terkait lainnya.

"Kami memohon dengan sangat, demi kemanusiaan. Jangan hanya menangkap mereka yang miskin dan tak punya pilihan lain. Tolong lihatlah nasib mereka, kasihanilah mereka. Mereka tidak memiliki kekuasaan, tidak punya uang banyak, mereka hanya orang biasa yang ingin menyekolahkan anak dan memberi makan istri," ujar salah satu Tokoh Masyarakat dengan nada haru.
Seorang Kepala Kampung turut angkat bicara, meminta Dinas Pertambangan dan Pemerintah Daerah melihat masalah ini secara utuh dan adil:
"Kami sangat menghormati aturan negara dan tugas instansi untuk menjaga alam. Tapi kami juga tahu siapa yang ada di sana. Mereka BUKAN pemilik modal besar, BUKAN pengatur utama, dan BUKAN orang yang sengaja ingin merusak lingkungan. Mereka hanyalah tenaga kerja kasar, orang tua, dan pemuda yang terpaksa melangkah ke sana karena pintu rezeki lain tertutup rapat di daerah ini," tegas Kepala Kampung tersebut.
Para warga sadar bahwa penambangan tanpa izin itu melanggar hukum. Namun mereka menanyakan: "Ke mana lagi kami harus mencari kerja? Jika tidak di sini, apa yang akan kami makan?"
"Jangan biarkan beban kesalahan ini jatuh hanya kepada rakyat kecil. Bedakanlah pelaku utama, bos besar, dan penanggung jawab tambang dengan pekerja harian yang hanya mencari sesuap nasi. Jangan potong akarnya, tapi biarkan pucuk yang sehat tetap hidup," tambahnya.
Mereka berharap Pemerintah Daerah dan Dinas Pertambangan tidak hanya datang untuk menertibkan dan menindak, tetapi juga hadir untuk memberikan solusi nyata.
"Bantu kami buka lapangan kerja lain, berikan pelatihan, atau bantu kami berusaha. Jika ada jalan halal yang layak, kami pasti memilih jalan itu. Kami tidak ingin melanggar hukum, kami hanya ingin bertahan hidup," pungkas perwakilan warga.
Revorter: Bung puting

Rosnita pasaribu
